Ketika menonton film “Dopamin” (2025), perhatian kita pasti langsung tersedot pada dilema moral utamanya: Apa yang akan Anda lakukan jika menemukan sekoper uang miliaran rupiah di tengah himpitan utang? Banyak penonton mengira di sinilah awal mula kehancuran mereka.
Namun, jika kita perhatikan lebih jeli, “badai” yang sesungguhnya dalam rumah tangga Malik (Angga Yunanda) dan Alya (Shenina Cinnamon) sudah dimulai jauh sebelum koper uang haram itu muncul. Akar masalah mereka adalah krisis finansial yang dipicu oleh PHK yang dialami Malik. Tragedi mereka sebenarnya bukanlah tentang menemukan uang, tetapi tentang rapuhnya fondasi komunikasi dan perencanaan keuangan mereka.
Film “Dopamin” secara tidak langsung menjadi studi kasus yang sempurna tentang mengapa “melek finansial” (financial literacy) adalah bagian fundamental dari pengembangan diri. Ini adalah pelajaran ketahanan mental yang relevan bagi siapa saja, yang ingin membangun hidup di atas fondasi yang kokoh—bukan di atas ‘keinginan’ sesaat.
Tekanan Ekonomi sebagai Kaca Pembesar Masalah
Bahkan sebelum koper itu muncul, film sudah memperlihatkan betapa sesaknya hidup Malik dan Alya. PHK yang datang tiba-tiba, tagihan yang menumpuk, dan tekanan hidup sehari-hari perlahan mengikis kenyamanan rumah yang sebelumnya hangat. Ketegangan mulai terasa, kecemasan menyelinap ke setiap percakapan, dan bibit-bibit saling menyalahkan mulai tumbuh tanpa disadari.
Inilah pelajaran penting pertama: krisis finansial jarang menciptakan masalah baru dari nol. Ia bekerja seperti kaca pembesar—memperjelas retakan kecil yang sebelumnya mungkin diabaikan. Perbedaan prioritas, kebiasaan belanja yang impulsif, atau ketiadaan rencana cadangan menjadi semakin terlihat ketika uang menjadi sumber tekanan.
Dalam situasi terhimpit seperti itu, kepanikan dan rasa putus asa membuat “solusi instan” seperti uang haram terlihat menggoda. Malik dan Alya tidak punya cukup waktu, ruang, atau ketenangan mental untuk mempertimbangkan pilihan lain. Mereka merasa tersudut. Dan dari titik rawan inilah, kita bisa belajar tiga pelajaran penting tentang melek finansial yang terlewatkan oleh keduanya.
Tiga Pilar Melek Finansial yang Diabaikan Malik & Alya
Ketiga pilar ini—transparansi, dana darurat, dan pengelolaan ekspektasi—bukanlah sekadar teori keuangan. Ini adalah pilar-pilar pengembangan diri yang fundamental, yang sayangnya sering terlewatkan dalam kurikulum formal.
Pelajaran #1: Transparansi Keuangan Itu Wajib, Bukan Pilihan
Kesalahan terbesar Malik bukan hanya mengambil uang itu, tetapi memilih untuk menyimpannya dari Alya. Di situlah krisis sebenarnya dimulai. Kebohongan besar jarang muncul tiba-tiba; biasanya ada banyak hal kecil yang sebelumnya dibiarkan mengendap tanpa pernah dibicarakan.
Inilah pelajaran pertama yang terlewatkan: dalam hubungan apa pun—baik sebagai pasangan maupun keluarga—pembicaraan soal uang bukan sekadar formalitas, tapi kebutuhan dasar. Keterbukaan soal keuangan membangun rasa aman dan kepercayaan. Sebaliknya, menyimpan rahasia finansial sekecil apa pun justru menjadi celah yang perlahan-lahan merusak fondasi hubungan, bahkan sebelum masalah besar seperti “uang haram miliaran rupiah” datang menghantam.
Pelajaran #2: Dana Darurat adalah Perisai Mental, Bukan Sekadar Tabungan
Salah satu alasan Malik dan Alya mudah tergoda adalah karena mereka tidak punya “jaring pengaman”. Saat Malik tiba-tiba di-PHK, kondisi mereka langsung terjun bebas tanpa kesempatan untuk bernapas atau berpikir jernih. Tanpa cadangan apa pun, mereka tidak punya ruang untuk menyusun langkah berikutnya.
Inilah pentingnya dana darurat. Banyak orang menganggapnya hanya sebagai tumpukan uang simpanan, padahal fungsi utamanya jauh lebih dalam: ia adalah pelindung mental. Dana darurat memberi kita waktu untuk tenang, meminimalkan stres, dan menjaga kewarasan saat hidup tiba-tiba berubah arah. Dengan simpanan, sekecil apa pun, kita punya kapasitas untuk membuat keputusan yang rasional, bukan keputusan impulsif yang lahir dari kepanikan.
Pelajaran #3: Mengelola Ekspektasi dan Mendefinisikan Ulang “Gaya Hidup”
Tekanan finansial yang dirasakan Malik dan Alya terasa jauh lebih berat karena ada gaya hidup yang mereka coba pertahankan—ditambah ekspektasi sosial yang diam-diam ingin mereka penuhi. Alasan mereka tergoda mengambil uang haram bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi untuk kembali ke zona nyaman hidup “sebelumnya” dengan cara instan.
Film Dopamin menyentil keras soal “inflasi gaya hidup”: ketika pendapatan naik, standar pengeluaran ikut melambung. Ini adalah jebakan perbandingan sosial yang tak pernah berujung. Salah satu pilar penting melek finansial adalah kemampuan menilai ulang apa arti “cukup” bagi diri kita sendiri. Dengan memahami kebutuhan yang benar-benar esensial, kita memiliki pertahanan terkuat untuk menolak godaan jalan pintas, konsumsi impulsif, dan utang hanya demi memenuhi standar yang sebetulnya tidak perlu.
Pada akhirnya, Dopamin bukan sekadar kisah tragis tentang keputusan yang salah, tetapi gambaran jelas bahwa kesalahan Malik dan Alya adalah gejala dari masalah yang jauh lebih mendasar. Kerapuhan finansial dan komunikasi yang tidak sehat sudah ada sejak awal—koper itu hanya mempercepat kehancurannya.
Pengembangan diri tidak akan pernah utuh tanpa kecerdasan finansial. Kita tidak bisa membangun ketenangan, mental yang stabil, atau hubungan yang kuat di atas fondasi keuangan yang rapuh. Karena itu, jangan menunggu sampai PHK, utang menumpuk, atau kondisi mendesak lainnya baru menyadari pentingnya hal ini.
Mulailah membicarakan uang sejak hari ini—dengan pasangan, keluarga, atau siapa pun yang terlibat dalam keputusan finansial Anda. Sisihkan dana darurat, sekecil apa pun jumlahnya. Jadikan melek finansial sebagai bagian dari perawatan diri, sama pentingnya dengan kesehatan mental dan emosional. Dengan begitu, saat godaan ‘jalan pintas’ muncul, Anda sudah memiliki ruang, kekuatan, dan ketenangan untuk menolaknya.
Penutup
Pada akhirnya, film “Dopamin” adalah sebuah pelajaran tragis. Keputusan fatal yang diambil Malik dan Alya untuk mengambil uang haram itu hanyalah gejala, bukan penyakit utama. Penyakit yang sesungguhnya adalah kerapuhan finansial dan komunikasi yang buruk—sesuatu yang sudah ada jauh sebelum koper itu datang.
Pengembangan diri yang utuh wajib mencakup pengembangan kecerdasan finansial. Kita tidak bisa membangun mental yang kuat di atas fondasi keuangan yang rapuh. Jangan menunggu krisis seperti PHK atau lilitan utang datang untuk mulai peduli.
Mulailah “money talk” yang sehat hari ini, entah itu dengan pasangan, keluarga, atau teman. Mulailah sisihkan dana darurat Anda, berapapun kecilnya. Jadikan melek finansial sebagai prioritas pengembangan diri Anda, agar saat godaan “dopamin” instan itu datang, Anda memiliki kekuatan dan pilihan untuk berkata tidak.

