Top 5 This Week

Related Posts

Hari Ibu, Perempuan, dan Makna Berdaya di Tengah Kehidupan Sehari-hari

Setiap menjelang Hari Ibu, ruang publik kembali dipenuhi ucapan selamat, poster bertema kasih sayang, dan narasi tentang pengorbanan. Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: apa sebenarnya makna Hari Ibu bagi perempuan hari ini?

Tahun ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menetapkan tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045.” Sebuah tema yang terdengar optimistis, sekaligus mengajak kita berhenti sejenak untuk berpikir—apa arti “berdaya” dalam kehidupan nyata perempuan, di luar slogan dan seremoni?

Hari Ibu di Indonesia tidak lahir dari tradisi perayaan keluarga, melainkan dari sejarah perjuangan. Akar peringatannya berasal dari Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928, sebuah momen ketika perempuan menyuarakan hak, pendidikan, dan peran sosialnya di tengah perubahan zaman. Sejak awal, Hari Ibu bukan tentang perayaan peran domestik semata, tetapi tentang kesadaran dan keberanian perempuan mengambil ruang dalam kehidupan publik.

Dalam keseharian, makna itu sering terasa jauh. Banyak perempuan menjalani peran ganda—mengajar, bekerja, mengurus keluarga, merawat orang tua—tanpa pernah menyebut dirinya “berdaya”. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena kata itu sering terdengar abstrak dan jauh dari realitas sehari-hari. Padahal, justru di sanalah letak daya itu: dalam ketekunan yang tidak selalu terlihat, dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari, dan dalam upaya bertahan di tengah tuntutan yang berlapis.

Sebagai pendidik, saya kerap melihat bagaimana perempuan—baik guru, ibu, maupun peserta didik—menjalani peran yang kompleks tanpa banyak ruang untuk refleksi. Mereka dituntut tangguh, adaptif, dan produktif, sering kali tanpa ruang aman untuk lelah atau ragu. Di titik inilah, tema Perempuan Berdaya dan Berkarya menjadi relevan bukan sebagai slogan, tetapi sebagai ajakan untuk meninjau ulang sistem yang kita bangun: apakah sudah cukup adil, manusiawi, dan memberi ruang tumbuh?

Berdaya tidak selalu berarti berada di posisi tinggi atau memiliki pengaruh besar. Bagi sebagian perempuan, berdaya berarti bisa mengambil keputusan atas hidupnya sendiri. Bagi yang lain, berdaya berarti tetap bertahan, belajar, dan berkontribusi meski dalam keterbatasan. Sementara berkarya tidak selalu identik dengan pencapaian publik, melainkan juga hadir dalam kerja-kerja sunyi yang menopang kehidupan sehari-hari—mengajar, merawat, mendampingi, dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Jika Indonesia benar-benar ingin menuju 2045 dengan fondasi yang kuat, maka pembicaraan tentang perempuan tidak boleh berhenti pada simbol dan seremoni. Ia harus hadir dalam kebijakan, dalam sistem pendidikan, dalam budaya kerja, dan dalam cara kita memandang peran satu sama lain. Pemberdayaan bukan hadiah, melainkan proses panjang yang menuntut kesadaran bersama.

Mungkin, makna terdalam Hari Ibu bukan terletak pada seberapa meriah ia dirayakan, tetapi pada sejauh mana kita mau belajar melihat ulang peran perempuan—bukan sebagai figur ideal yang harus selalu kuat, melainkan sebagai manusia utuh yang berhak tumbuh, gagal, belajar, dan menentukan jalannya sendiri.

Dan dari sanalah, perlahan, makna “berdaya dan berkarya” menemukan bentuknya yang paling manusiawi.

Popular Articles