Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul setiap kali pembagian rapor berlangsung. Pertanyaan yang terdengar sederhana, bahkan wajar, tetapi sering kali menyimpan beban emosional yang tidak ringan: “Bagaimana anak saya?”
Sebagai guru, saya belajar bahwa pertanyaan itu jarang berdiri sendiri. Ia datang membawa harapan, kecemasan, rasa bersalah, bahkan ketakutan yang tidak selalu terucap. Di baliknya, ada orang tua yang ingin diyakinkan bahwa anaknya baik-baik saja, ada pula yang diam-diam takut mendengar kenyataan yang tidak siap mereka terima.
Dalam situasi seperti ini, saya semakin menyadari bahwa rapor bukan sekadar dokumen akademik. Ia adalah titik temu antara harapan, kenyataan, dan relasi manusia yang tidak selalu mudah.
Tidak semua orang tua datang dengan kesiapan yang sama. Ada yang terbuka, mau berdiskusi, dan menyadari bahwa anaknya sedang menghadapi tantangan tertentu. Mereka tidak selalu tahu harus berbuat apa, tetapi bersedia mendengar dan belajar bersama. Namun ada pula orang tua yang datang dengan sikap defensif—bukan karena tidak peduli, melainkan karena merasa terancam, malu, atau takut dianggap gagal sebagai orang tua.
Dalam situasi seperti itu, saya belajar bahwa kejujuran saja tidak cukup. Cara menyampaikan jauh lebih menentukan daripada isi pesan itu sendiri. Menyebutkan bahwa seorang anak “bermasalah” atau “kurang mampu bersosialisasi” mungkin faktual, tetapi bisa melukai jika disampaikan tanpa konteks dan empati. Di sisi lain, menutup mata terhadap kenyataan juga bukan pilihan yang bertanggung jawab.
Di sinilah peran guru menjadi rumit sekaligus penting: menjadi penyampai kenyataan tanpa menjatuhkan, dan menjadi pendamping tanpa mengambil alih peran orang tua.
Saya belajar bahwa tidak semua orang tua siap mendengar semuanya sekaligus. Ada yang perlu waktu. Ada yang perlu diyakinkan bahwa sekolah bukan sedang mencari kesalahan. Ada pula yang sedang berada dalam fase menerima kenyataan tentang anaknya. Dalam kondisi seperti itu, tugas guru bukan memaksa pemahaman, melainkan membuka ruang aman agar dialog bisa terjadi.
Dalam beberapa kasus, saya justru menemukan bahwa orang tua yang tampak keras atau defensif sebenarnya sangat peduli. Mereka hanya tidak tahu harus memulai dari mana. Ketika guru mampu menempatkan diri bukan sebagai “penilai”, tetapi sebagai mitra yang ingin membantu, percakapan perlahan berubah arah. Dari saling berjaga, menjadi saling percaya.
Pengalaman-pengalaman ini mengajarkan saya bahwa pendidikan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berada di persimpangan antara sekolah, keluarga, dan kehidupan anak yang jauh lebih kompleks daripada nilai di rapor. Ketika kita memperlakukan rapor sebagai satu-satunya representasi anak, kita kehilangan kesempatan untuk melihat manusia seutuhnya.
Pada akhirnya, pertanyaan “bagaimana anak saya?” bukan tentang nilai, bukan tentang peringkat, dan bukan tentang standar. Ia adalah permintaan halus untuk dipahami. Dan barangkali, tugas terpenting pendidik bukan menjawabnya dengan cepat, tetapi menemani orang tua dan anak menelusuri jawabannya bersama-sama—pelan, jujur, dan manusiawi.