Setiap kali musim penerimaan rapor tiba, suasana sekolah selalu berubah. Bukan hanya siswa yang tegang, tetapi juga orang tua dan guru. Ada percakapan yang mengendap di udara: tentang nilai, peringkat, dan harapan yang kadang terlalu berat untuk dipikul anak-anak seusianya. Di titik inilah saya sering bertanya pada diri sendiri—apa sebenarnya yang sedang kita nilai, dan untuk siapa penilaian itu dibuat?
Rapor, dalam bentuk apa pun, sejatinya lahir sebagai alat bantu. Ia dimaksudkan untuk merekam proses belajar, memberi gambaran perkembangan, dan menjadi dasar percakapan antara sekolah, anak, dan keluarga. Namun dalam praktiknya, rapor kerap berubah menjadi penentu harga diri. Angka-angka di dalamnya tidak lagi dibaca sebagai informasi, melainkan sebagai label: pintar, biasa saja, atau tertinggal. Dari sini, makna pendidikan perlahan bergeser—dari proses bertumbuh menjadi perlombaan posisi.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana sebagian anak datang menerima rapor dengan bahu menegang, bukan karena mereka tak belajar, tetapi karena takut tidak memenuhi ekspektasi. Ada yang belajar keras, tetapi tetap merasa gagal karena tidak berada di peringkat atas. Ada pula yang sebenarnya berkembang pesat, namun merasa pencapaiannya “tidak cukup berarti” karena tidak tercetak dalam bentuk ranking. Di titik inilah saya mulai mempertanyakan: apakah sistem penilaian yang kita gunakan benar-benar membantu anak memahami dirinya, atau justru menjauhkan mereka dari makna belajar itu sendiri?
Kurikulum Merdeka, dengan segala keterbatasannya, mencoba menggeser fokus tersebut. Ia tidak meniadakan penilaian, tetapi mengubah cara kita memaknainya. Penilaian tidak lagi semata-mata alat seleksi, melainkan sarana refleksi. Bukan tentang siapa yang paling tinggi, melainkan tentang sejauh mana seorang anak berkembang dari titik awalnya. Bukan tentang membandingkan satu anak dengan yang lain, tetapi tentang membantu setiap anak mengenali kekuatan dan area yang masih perlu ditumbuhkan.
Namun perubahan paradigma ini tidak selalu mudah diterima, terutama oleh orang tua yang tumbuh dalam sistem lama. Wajar bila muncul pertanyaan tentang peringkat, tentang posisi, tentang “sebenarnya anak saya di mana”. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu lahir dari ambisi berlebihan, melainkan dari kegelisahan yang manusiawi: keinginan memastikan anaknya baik-baik saja dan memiliki masa depan yang aman. Tantangannya bukan menolak pertanyaan itu, melainkan menjawabnya dengan jujur dan manusiawi—tanpa kembali terjebak pada logika angka semata.
Di sinilah peran pendidik menjadi lebih dari sekadar penyampai nilai. Kita dituntut menjadi penerjemah makna. Menjelaskan bahwa belajar bukan lintasan lurus, bahwa kemajuan tidak selalu tampak dalam satu semester, dan bahwa kegigihan, rasa ingin tahu, serta kemampuan merefleksi diri sering kali jauh lebih menentukan dalam jangka panjang daripada posisi di papan peringkat. Ini bukan romantisasi kegagalan, tetapi pengakuan bahwa pertumbuhan manusia tidak pernah linear.
Dalam praktiknya, ini berarti menggeser percakapan. Dari “peringkat berapa” menjadi “apa yang sudah dipahami anak dan apa yang masih perlu dibantu”. Dari “nilai turun” menjadi “apa yang berubah dalam cara belajarnya”. Dari penilaian yang bersifat menghakimi menjadi dialog yang membuka kemungkinan. Perubahan kecil dalam cara berbicara sering kali membawa dampak besar dalam cara anak memandang dirinya sendiri.
Menulis dan memikirkan ulang tentang rapor membuat saya sadar bahwa pendidikan sejatinya bukan tentang mencetak hasil yang seragam, melainkan menemani proses yang beragam. Rapor hanyalah salah satu dokumen dalam perjalanan panjang itu—bukan penentu nilai seorang anak, apalagi masa depannya. Ketika kita mampu melihatnya dengan jarak yang sehat, rapor bisa kembali ke fungsinya yang paling dasar: alat refleksi, bukan sumber kecemasan.
Mungkin pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah “anak ini peringkat berapa?”, melainkan “apa yang sedang ia pelajari tentang dirinya sendiri, dan bagaimana kita bisa membantunya tumbuh dengan lebih utuh?”. Pertanyaan itu tidak selalu mudah dijawab, tetapi justru di sanalah pendidikan menemukan maknanya yang paling manusiawi.
