Pendahuluan
Hari ini, 20 November 2025, lini masa media sosial kita mungkin dipenuhi dengan ucapan “Selamat Hari Anak Sedunia”. Poster-poster digital dengan warna cerah bertuliskan “Hariku, Hakku” dan “Suara Anak, Masa Depan Kita” bertebaran di mana-mana.
Namun, di balik kemeriahan perayaan ini, ada satu pertanyaan reflektif yang perlu kita ajukan sebagai orang dewasa—baik sebagai orang tua maupun guru:
“Sudahkah kita benar-benar mendengarkan mereka? Atau kita hanya sekadar mendengar?”
Dalam dunia pengembangan diri (self-development), kita sering belajar tentang public speaking atau cara memengaruhi orang lain. Namun, kita sering lupa mempelajari keterampilan yang jauh lebih sulit namun krusial: Seni Mendengarkan (The Art of Listening).
Ego Orang Dewasa: Penghalang Terbesar Komunikasi
Sebagai guru atau orang tua, kita sering terjebak dalam “jebakan otoritas”. Kita merasa lebih tua, lebih berpengalaman, dan lebih tahu apa yang terbaik. Akibatnya, komunikasi sering berjalan satu arah. Kita memberi instruksi, anak mendengarkan. Kita menasihati, anak mengangguk.
Padahal, tema Hari Anak Sedunia tahun ini, “Suara Anak, Masa Depan Kita”, adalah sebuah teguran halus. Suara mereka tidak akan bisa membentuk masa depan jika hari ini terus-menerus dibungkam oleh ego kita yang merasa “paling benar”.
Mengubah “Mendengar” Menjadi “Menyimak”
Mendengar (hearing) adalah proses fisik menangkap gelombang suara. Tapi menyimak (listening) adalah proses kognitif dan emosional untuk memahami makna di balik suara tersebut.
Ketika seorang murid mengeluh, “Pak/Bu, pelajarannya susah,” respons instan kita biasanya adalah defensif: “Makanya perhatikan kalau dijelaskan!”
Coba ubah dengan pendekatan active listening. Tarik napas, tahan komentar, dan validasi perasaan mereka: “Bagian mana yang membuatmu bingung? Ibu/Bapak siap bantu.”
Perubahan kecil ini mengirimkan pesan kuat ke alam bawah sadar anak: “Aku dihargai. Perasaanku valid. Aku aman di sini.”
3 Langkah Praktis Mempraktikkan Seni “Diam”
Bagi Anda yang ingin mulai mempraktikkan hal ini di rumah atau di kelas, berikut adalah tiga langkah sederhana namun powerful:
1. Sejajarkan Mata (Eye Level)
Jangan bicara pada anak dari ketinggian. Jika mereka kecil, berjongkoklah. Jika mereka duduk, duduklah di sampingnya. Kontak mata yang sejajar menghilangkan intimidasi dan membangun kesetaraan rasa. Ini adalah bahasa tubuh yang berteriak, “Aku siap mendengarkanmu.”
2. Terapkan Aturan “Gawai Tiarap”
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi anak zaman sekarang selain berbicara pada orang tua atau guru yang matanya tertuju ke layar ponsel. Saat anak bicara, letakkan gawai. Tunjukkan bahwa di momen itu, mereka lebih penting daripada notifikasi apapun.
3. Tahan Solusi, Perbanyak Empati
Seringkali, anak bercerita bukan untuk minta solusi, tapi hanya ingin didengar. Jangan buru-buru memotong dengan “Harusnya kamu begini…”. Cobalah ganti dengan pertanyaan pemantik: “Lalu, apa yang kamu rasakan saat itu?” atau “Menurutmu, apa yang sebaiknya kita lakukan?”
Kesimpulan: Mendengar Adalah Investasi Masa Depan
Mengembalikan hak anak di Hari Anak Sedunia ini tidak harus selalu berupa hadiah mainan mahal atau perayaan mewah.
Hadiah terindah yang bisa kita berikan adalah telinga yang mau mendengar dan hati yang mau mengerti. Dengan mendengarkan suara mereka hari ini, kita sedang membantu mereka membangun kepercayaan diri untuk memimpin masa depan kita nanti.
Selamat Hari Anak Sedunia 2025. Mari rayakan dengan lebih banyak mendengar, dan sedikit bicara.
