Mengapa Sekolah Perlu Bergerak?
Di era digital, murid tidak hanya dituntut cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, mandiri dalam mengambil keputusan, berkomunikasi secara etis, serta bertanggung jawab sebagai warga digital.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa akses teknologi yang luas belum tentu diiringi dengan kebijaksanaan dalam menggunakannya. Informasi menyebar begitu cepat. Komentar bisa melukai. Jejak digital bisa menetap selamanya.
Berangkat dari kesadaran tersebut, SMA Negeri 1 Ceper menginisiasi Program Kokurikuler “Generasi Bijak Digital” untuk murid kelas X (Fase E) dalam skema 35 JP sistem blok. Program ini dirancang sebagai ruang belajar reflektif dan berbasis proyek untuk membangun empat fondasi utama Dimensi Profil Lulusan (DPL):
nalar kritis, kemandirian, komunikasi digital yang sehat, dan kewargaan digital.
Dari Pengguna Menjadi Warga Digital
Pada tahap awal kegiatan, murid diajak menganalisis berbagai kasus nyata: hoaks yang viral, perundungan siber, penyebaran data pribadi, hingga manipulasi informasi.
Diskusi berlangsung dinamis. Ada yang spontan menyalahkan korban. Ada yang membela tanpa dasar data. Namun dari situlah proses belajar dimulai.
Perlahan, murid mulai mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam:
- Dari mana sumber informasi ini?
- Apakah ini fakta atau opini?
- Apa dampaknya jika saya ikut membagikan?
Di titik ini, nalar kritis mulai tumbuh.
Menumbuhkan Kemandirian dalam Mengambil Keputusan
Salah satu temuan menarik muncul dari refleksi tertulis murid. Beberapa mengakui bahwa sebelumnya mereka sering membagikan ulang informasi tanpa membaca secara utuh. Ada pula yang merasa komentar tajam adalah hal biasa dalam perdebatan daring.
Setelah mengikuti rangkaian kegiatan, pola pikir itu mulai berubah.
Siswa mulai menerapkan prinsip cek fakta sebelum membagikan informasi. Mereka mempertimbangkan konsekuensi unggahan. Beberapa bahkan menata ulang pengaturan privasi akun media sosialnya.
Inilah bentuk nyata kemandirian digital—kemampuan mengendalikan diri dan mengambil keputusan secara sadar di ruang yang tanpa batas.
Belajar Berkomunikasi Tanpa Melukai
Kemampuan komunikasi menjadi aspek penting dalam program ini. Dalam diskusi terarah, murid dilatih untuk menyampaikan pendapat secara argumentatif tanpa menyerang pribadi.
Awalnya, komentar masih bercampur emosi. Namun dengan pendampingan dan budaya dialog yang aman, kualitas komunikasi berubah. Kritik diarahkan pada ide, bukan individu. Bahasa menjadi lebih terstruktur dan beretika.
Mereka belajar bahwa kebebasan berekspresi bukan berarti bebas tanpa tanggung jawab.
Proyek Nyata: Dari Wacana ke Aksi
Pembelajaran tidak berhenti pada diskusi. Murid kemudian merancang dan memproduksi konten digital positif sebagai proyek akhir.
Hasil karya mereka sangat beragam:
- Infografis tentang cara mengenali hoaks
- Poster digital tentang etika berkomentar
- Video iklan layanan masyarakat tentang penggunaan internet secara positif
Dalam prosesnya, siswa menyusun storyboard, mencari data kredibel, menentukan pesan utama, hingga memikirkan dampak sosial dari konten yang mereka buat.
Di sinilah kewargaan digital benar-benar dipraktikkan. Mereka tidak sekadar memahami konsep tanggung jawab sosial, tetapi mewujudkannya dalam karya nyata.
Ruang Aman untuk Bertumbuh
Salah satu kunci keberhasilan program ini adalah terciptanya ruang dialog yang aman. Murid merasa didengar. Mereka bebas berpendapat tanpa takut dihakimi.
Budaya kelas yang suportif memungkinkan berkembangnya nalar kritis dan komunikasi sehat. Pendidikan karakter digital tidak bisa tumbuh dalam suasana yang kaku dan penuh tekanan. Ia tumbuh dalam dialog.
Model yang Bisa Direplikasi
Program “Generasi Bijak Digital” menunjukkan bahwa literasi digital akan lebih efektif jika:
- Berbasis kasus nyata yang dekat dengan kehidupan siswa
- Menggunakan pendekatan reflektif
- Mengintegrasikan proyek sebagai media internalisasi nilai
- Guru berperan sebagai fasilitator dialog, bukan pusat kebenaran
Model ini sangat mungkin diterapkan di sekolah lain dengan penyesuaian konteks masing-masing.
Membangun Generasi yang Bijak, Bukan Sekadar Cakap
Teknologi akan terus berkembang. Platform akan berganti. Tren akan berubah.
Namun kemampuan berpikir kritis, kemandirian dalam mengambil keputusan, komunikasi yang etis, dan kesadaran sebagai warga digital akan selalu relevan.
Melalui Program Kokurikuler “Generasi Bijak Digital”, SMA Negeri 1 Ceper berupaya menyiapkan murid bukan hanya untuk menghadapi dunia digital, tetapi untuk berperan aktif dan bertanggung jawab di dalamnya.
Karena pada akhirnya, yang kita bangun bukan hanya kompetensi digital.
Kita sedang membangun karakter.